YKAN Gelar Lokakarya Adaptasi Iklim untuk Masyarakat Pesisir Bangka Belitung

by -2764 Views
Foto ; repro/mediacenterbelitung
banner 468x60

DjossNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menggelar lokakarya bertajuk “Penyelarasan Program Adaptasi Iklim Bangka Belitung” dengan fokus utama pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal melalui perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove pesisir.

Acara yang berlangsung pada Kamis, 30 Oktober 2025 lalu, ini dilaksanakan di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, sebagai bagian dari program Serumpun Babel yang bertujuan untuk memperkuat kecakapan masyarakat pesisir dalam menghadapi risiko lingkungan dan perubahan iklim yang kian tidak menentu.

banner 336x280

Dengan kondisi alam yang terus berubah, ketahanan masyarakat pesisir terhadap bencana alam dan perubahan iklim menjadi semakin penting. Lokakarya ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah desa, serta masyarakat desa dalam merumuskan langkah-langkah adaptasi yang dapat dilakukan di tingkat lokal.

Tujuannya adalah membangun resiliensi masyarakat pesisir, sehingga mereka dapat bangkit kembali dan beradaptasi lebih cepat setelah terkena dampak bencana alam.

Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim dan Bencana Alam

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tercatat sebagai salah satu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, banjir, dan abrasi pantai.

Data dari Bencana Indonesia 2024 mencatat adanya 245 orang yang terdampak cuaca ekstrem dan 2.964 orang yang terdampak banjir, dengan 563 rumah terendam. Kondisi ini menuntut adanya langkah-langkah konkret dalam meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap bencana alam.

“Pengembangan kapasitas masyarakat pesisir untuk menghadapi bencana alam dan perubahan iklim menjadi hal yang sangat krusial.

Lokakarya ini bertujuan untuk mendorong kesadaran dan tindakan nyata, serta menyelaraskan upaya adaptasi iklim di tingkat desa dengan kebijakan yang ada di tingkat daerah maupun nasional,” ujar Kepala DLH Kabupaten Belitung, Yasa, dalam sambutannya.

Pentingnya Kolaborasi dan Sinergi Antar-Sektor

See also  Sebaiknya Anda Tahu! Denda & Pidana Bila Masyarakat Tidak Lapor SPT

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menyusun rencana aksi yang implementatif.

Program adaptasi iklim yang diinisiasi oleh pemerintah, seperti ProKlim (Program Kampung Iklim) di DLHK, Destana (Desa Tangguh Bencana) di BPBD, dan PBI (Pembangunan Berketahanan Iklim) di Bappeda, merupakan bagian dari upaya nasional yang harus didukung oleh setiap lini masyarakat.

Lokakarya ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengetahui berbagai peluang pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program adaptasi iklim.

Diskusi kelompok yang berlangsung interaktif memungkinkan para peserta untuk merumuskan langkah-langkah strategis yang dapat diambil untuk memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana.

Pemulihan Ekosistem Mangrove untuk Kesejahteraan Masyarakat

Ekosistem mangrove, yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam, menjadi salah satu fokus utama dalam program ini. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pesisir dari abrasi dan bencana alam, tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir.

Melalui restorasi dan perlindungan mangrove, diharapkan dapat tercipta peluang baru bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan penghidupannya, baik melalui ekowisata, perikanan berkelanjutan, maupun aktivitas ekonomi lainnya yang ramah lingkungan.

YKAN, yang memfasilitasi lokakarya ini, menekankan bahwa keterlibatan masyarakat dan dukungan dari pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.

Dalam kesempatan ini, para narasumber yang hadir, termasuk perwakilan dari DLHK Provinsi Bangka Belitung, BPBD Provinsi Bangka Belitung, dan Bappelitbangda Kabupaten Belitung Timur, mengingatkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Keberlanjutan Program Adaptasi Iklim Melalui Sinergi

“Lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Oleh karena itu, kita harus bekerjasama untuk menjaga dan memulihkan kembali yang sudah rusak,” ungkap Yasa, Kepala DLH Kabupaten Belitung, menutup sambutannya.

See also  Pelatihan Paskibraka Belitung Tahun 2025

Dengan adanya sinergi yang baik antara masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga konservasi, diharapkan program adaptasi iklim yang dijalankan dapat berjalan secara efektif dan berdampak positif bagi ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di Bangka Belitung.

Peluang Besar untuk Masyarakat Lokal

Lokakarya ini memberikan harapan baru bagi masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada ekosistem pesisir untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Program seperti Serumpun Babel menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, masyarakat pesisir tidak hanya dapat bertahan menghadapi ancaman perubahan iklim, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Dengan pendekatan yang tepat, tidak hanya lingkungan yang akan terlindungi, tetapi juga masyarakat pesisir akan semakin mandiri dan sejahtera,” ujar salah seorang peserta yang hadir di acara lokakarya.

Lokakarya ini menegaskan bahwa adaptasi iklim bukan hanya tentang mitigasi bencana, tetapi juga bagaimana menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat yang terdampak. Dengan keterlibatan aktif dari semua pihak, perubahan positif bisa terwujud dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin tak terduga. | DjossNews.Com | */Redaksi | *** |

banner 336x280
DILARANG mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin REDAKSI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.